Pages

Minggu, 07 Mei 2017

Sustainable Manufacturing W13: Product Service System (PSS)

Minggu ini, saya kembali tidak mengikuti perkuliahan karena harus mengikuti lomba di Jakarta. Namun, dari cerita teman-teman saya, perkuliahan minggu ini sangat mengasyikkan karena kami kembali kedatangan tamu, yakni Bu Mila dari Universitas Brawijaya Malang. Bu Mila menjelaskan tentang PSS yang belum pernah saya ketahui sebelumnya.

PSS adalah sistem yang mengintegrasikan produk dan layanan untuk memenuhi kebutuhan konsumen. Padahal, produk dan layanan jelas-jelas memiliki beberapa karakteristik mendasar yang sangat berbeda. Sebagai contoh, produk sifatnya tangible (nyata) sedangkan layanan sifatnya intangible (tidak nyata). Nah, dalam PSS, aspek produk dan layanan tersebut dikombinasikan untuk memperoleh competitive advantage. Sebab, seiring dengan adanya globalisasi, permintaan konsumen semakin meningkat tetapi memenuhi kebutuhan terhadap produk saja tidak cukup. Saat ini konsumen juga cenderung lebih memilih mendapatkan manfaatnya saja daripada harus membeli suatu produk. Salah satu contohnya adalah lebih memilih menyewa mesin cuci daripada harus membeli meisn cuci baru. 

PSS dibagi menjadi tiga kategori, yakni product oriented, use oriented, dan result oriented.

  • Product oriented : menjual produk dengan memeberikan beberapa layanan tambahan
  • Use oriented : konsumen tidak perlu memberi barang, karena dapat menyewa hanya untuk memperoleh manfaat dari barang tersebut, dibagi menjadi tiga, yakni sharing, renting, dan pooling. 
  • Result oriented : menjual layanan

PSS tentu saja berkaitan erat dengan sustainability. Selain bertujuan untuk meningkatkan competitive advantage, profitability, dan customer level suatu perusahaan, PSS juga ramah lingkungan. Hal ini karena banyak konsumen dapat menggunakan satu produk yang sama sehingga akan ada sharing economy. Contohnya adalah banyak perusahaan yang saat ini lebih memilih menyewa mobil sebagai mobil dinas daripada harus membeli puluhan mobil baru untuk karyawannya. Sebab, dengan menyewa, mobil tetap dapat digunakan dengan utility tinggi, biaya murah, namun perusahaan tidak perlu repot mengurus perawatannya.


Saya juga teirngat salah satu contoh lain PSS yang pernah diterangkan oleh Bu Maria, yakni penyewaan mesin fotokopi. Saya ingat saat mata kuliah ekologi industri, Bu Maria sempat menjelaskan bahwa Departemen Teknik Industri (DTI) ternyata selama ini tidak memiliki mesin fotokopi, karena mereka hanya menyewa dari sebuah perusahaan. Sehingga, saat ada kerusakan, pihak DTI tidak akan terganggu operasionalnya karena perusahaan akan langsung mengganti dengan mesin fotokopi yang lain dan bertaggungjawab untuk memperbaiki mesin fotopi yang rusak tersebut. Wah berguna sekali ya sistem PSS ini :)

Minggu, 30 April 2017

Sustainable Manufacturing W12: Green and Lean Manufacturing

Setelah minggu lalu tidak ada perkuliahan karena studi ekskursi, minggu ini kami kedatangan Bu Ninik dari Universitas Diponogoro. Beliau sedang melakukan penelitiannya tentang konsep Green and Lean Manufacturing untuk meraih gelar doktor dari ITS. Hingga saat ini, industri manufaktur sejatinya telah berevolusi, dari traditional manufacturing, lean manufacturing, green manufacturing, hingga sustainable manufacturing. Lean manufacturing adalah saat perusahaan fokus pada efisiensi, yakni bagaimana menggunakan energi dan cost seminimal mungkin untuk melakuakn proses bisnisnya. Green manufacturing menuntut perusahaan untuk berorientasi agar proses bisnisnya tidak berdampak buruk terhadap lingkungan, sedangkan perusahaan yang sudah menerapkan sustainable manufacturing akan selalu memperhatikan Triple Bottom Line (profit-people-planet).

Karena fokus pada penerapan lean dan green manufacturing, Bu Ninik menjelaskan bagaimana kedua konsep ini sebenarnya berkaitan. Dalam lean manufacturing, hal yang menjadi driver dalam proses bisnis perusahaan adalah konsumen karena konsumen pasti menginginkan produk dengan harga serendah-rendahnya namun dengan kualitas sebaik-baiknya. Sehingga, perusahaan harus memutar otak bagaimana membuat proses produksinya lebih efisien dengan tak henti melakukan continuous improvement. Beberapa caranya adalah dengan menerapkan 5S (5R - Ringkas, Rapi, Resik, Rawat, Rajin), Poka Yoke, Kanban, Just in Time, dan cellular manufacturing. 

Sedangkan pada konsep green manufacturing, tujuan utamanya adalah bagaimana agar limbah perusahaan dapat diminalisir sebanyak mungkin untuk mengurangi risiko bahaya terhadap manusia dan lingkungan. Namun, menurut Bu Ninik, alah satu tantangan terbesar dalam penerapan green manufacturing adalah kesadaran masyarakat yang masih kurang tentang pentingnya para perusahaan menerapkan konsep ini. Alhasil, hanya sedikit masyarakat yang memperitmbangkan apakah sebuah perusahaan menerapkan green manufacturing atau tidak saat membeli produknya.


Sejatinya, konsep lean dan green manufacturing memiliki persamaan, yakni untuk mengurangi waste sebanyak mungkin namun tetap memiliki service level tinggi. Bedanya ialah bagaimana kedua konsep tersebut mendefinisikan waste, menetapkan key performance indicator, dan menganalisis prosesnya. Lean manufacturing menggunakan Value Stream Mapping (VSM), yakni teknik untuk melihat aliran material dan informasi dalam proses bisnis agar bisa mendeteksi titik pemborosan dalam proses tersebut. Sedangkan green manufacturing menggunakan Life Cycle Assessment (LCA) untuk menganalisis dampak lingkungan yang dihasilkan selama siklus hidup produk.

Sabtu, 15 April 2017

Sustainable Manufacturing W10: Green Industry and Elevator Pitch

Pada pertemuan minggu ini, Bu Maria ingin menjelaskan kepada kami tentang green industry namun dengan cara yang berbeda. Jauh sebelum pertemuan ini dimulai, kami diminta untuk membaca buku "Pedoman Penilaian Penghargaan Industri Hijau" dari Kementrian Perindustria Indonesia. Buku tersebut berisi ulasan tentang penghargaan green industry, termasuk indikator dan standar penilaian untuk mendapatkan penghargaan tersebut.

Setelah memahami isinya, kami melakukan roleplay. Kami harus menjadi salesman yang menawarkan jasa konsultan untuk menerapkan green industry di perusahaannya. Jadi, kami harus benar-benar bisa menjelaskan apa itu green industry kepada orang lain, apa untungnya, dan bagaimana penilaiannya.

Penghargaan green industry adalah bentuk motivasi dari pemerintah kepada perusahaan di Indonesia agar mereka mau menerapkan prinsip green industry dalam seluruh proses produksinya. Untuk memperolehnya, terdapat beberapa indikator yang harus diperhatikan, termasuk tingkat efisiensi proses produksi, defect dan waste yang dihasilkan dari proses produksi, hingga manajemen energi dan limbah produksi. Selain itu, penghargaan ini turut menjadikan Corporate Social Responsibility (CSR) dan manajeman sumber daya manusia seperti pelatihan dan medical check up pekerja sebagai aspek penilaian. Pada intinya, jika sebuah perusahaan sudah dilabeli dengan green industry, itu artinya perusahaan tersebut memang benar-benar ramah lingkungan dan terbukti mendukung sustainability dari berbagai aspek. Penghargaan industri hijau ini diharapkan dapat menjadi nilai tambah bagi perusahaan agar konsumen memilih produknya, apalagi jika melihat trend masyarakat saat ini yang sudah mulai sadar akan pentingnya menjaga lingkungan. Setelah saya sedikit browsing, sudah ada beberapa perusahaan di Indonesia yang telah menerima penghargaan ini, salah satunya PT. Semen Indonesia dan Frisian Flag Indonesia.

Oh iya, dalam roleplay menjadi salesman kali ini, Bu Maria menginginkan agar kami melakukannya dengan cara yang berbeda, yaitu dengan menggunakan elevator pitch! Jadi, kami dituntut untuk bisa menyampaikan dan menjual tentang green industry hanya dalam waktu tiga menit. Kami harus membayangkan bagaimana jika kami bertemu bos perusahaan besar dalam sebuah elevator dan kami harus membuatnya tertarik dengan green industry sebelum pintu elevatornya terbuka. Wow. Wow. Wow. Semakin saya yakin bahwa teknik ini pasti akan sangat berguna bagi kita nanti, semakin saya merasa bahwa melakukan elevator pitch tak semudah yang dibayangkan:( Beberapa teman saya sempat mencoba maju ke depan kelas untuk mempraktikkan, tapi beberapa dari mereka berakhir gugup di depan kelas dan akhirnya tidak dapat benar-benar "menjual" ide tentang green industry kepada bos perusahaan. Saya tertarik sekali untuk mencobanya, tapi mungkin tidak minggu ini. Saya harus mencari tau lebih lanjut tentang teknik-teknik melakukan ini. Salah satunya, dengan menonton video di bawah ini :) 6 Elevator Pitches for the 21st Century

Senin, 03 April 2017

Sustainable Manufacturing W8: Solid Waste & Mass Customization

Pada pertemuan terakhir sebelum UTS ini, kami membahas tentang tugas akhir salah satu alumni yakni tentang penyapu jalan di Surabaya. Hal ini dilatarbelakangi oleh temuan Walikota Surabaya, Bu Risma, yang merasa jalan di Surabaya masih banyak yang kotor. Untuk itu, beliau ingin mengetahui bagaimana cara terbaik untuk mengatasi hal ini, termasuk penggunaa mesin penyapu jalan (Road Sweeper). Penggunaan alat ini dapat menggantikan kerja manusia yang selama ini menyapu jalan setelah dilakukan penghitungan jumlah penyapu optimal di Surabaya. Namun, beberapa hal yang menjadi kerugian penggunaan Road Sweeper adalah meningkatnya jumlah pengangguran serta kemampuan alat yang tidak dapat menjangkau bagian-bagian tertentu di jalan.

Dalam kelas kali ini, dibahas pula mengenai mass customization yang menjadi salah satu topik pada kuliah tamu yang diselenggarakan pada minggu sebelumnya. Kuliah tamu yang diisi oleh Pak Chu dari Malaysia tersebut memberikan kami pengetahuan bahwa mass customization dapat menjadi salah satu solusi bagi perusahaan yang ingin memenuhi keinginan pelanggannya namun tetap dengan low production cost.
Mass customization pada mobil Mini Cooper
Sistem mass customizaation meungkinkan pelanggan untuk memilih dan menyusun sendiri fitur-fitur apa yang mereka inginkan dalam sebuah produk dengan menggunakan biaya layaknya produksi masal. Mass customization telah menjadi tren tersendiri karena dapat memenuhi permintaan pelanggan secara tepat sehingga dapat memperoleh keuntungan lebih banyak. Selain itu, tingkat kepuasan pelanggan juga akan meningkat significantly. Beberapa jenis produk dari beberapa perusahaan telah menetapkan sistem ini, seperti sepatu Nike dan mobil Mini Cooper dimana konsumen dapat langsung memilih warna dan model yang diinginkan.

Senin, 27 Maret 2017

Sustainable Manufacturing W7: Solid Waste

Sebelum menginjak topik utama mengenai solid waste, Bu Maria terlebih dahulu membahas tentang tugas akhir salah satu teman kami, yakni Mas Bagus. Dalam tugas akhirnya, mas Bagus meneliti tentang kran air siap minum (KASM), termasuk bagaimana penggunaannya di kalangan masyarakat. Untuk itu, mas Bagus dan Bu Maria terlebih dahulu memberikan mahasiswa di kelas beberapa pertanyaan, seperti:

Apakah pernah menggunakan KASM?
Apa kesegaran air KASM sama dengan air minum biasa?
Jika tidak pernah menggunakan KASM, mengapa?
Setelah mengetahui tentang kualitas air KASM, apakah masih ingin minum?
...dan beberapa pertanyaan lain yang tidak dapat saya ingat hehe ^^"

Saya termasuk orang yang tidak pernah menggunakan KASM karena saya masih ragu dengan kualitanya dan saya risih jika harus meminum air tersebut langsung dari krannya. Apalagi bentuk KASM yang ada di ITS cukup susah untuk digunakan minum langsung tanpa menggunakan botol/gelas. Setelah beberapa pertanyaan singkat dan penjelasan dari mas Bagus, saya masih belum mau meminumnya karena alasan kedua. Kalau masalah kualitas, okelah karena saya sekarang udah cukup yakin dengan kualitasnya. Saya juga merasa bahwa diperlukan sosialisasi lebih kepada masyarakat tentang penggunaan KASM ini, termasuk indikator air boleh diminum, kualitasnya, dan lain-lain. Ini agar KASM yang telah disediakan gratis oleh PDAM benar-benar bermanfaat.

Setelah sekilas membahas tentang tugas akhir Mas Bagus, Bu Maria mulai masuk ke topik utama yakni solid waste. Topik bahasan kali ini ialah tugas akhir mbak Rahmasari tentang sistem konversi unit dalam sistem pembayaran pengangkutan sampah yang sebelumnya dalam satuan unit menjadi satuan volume. Bu Maria juga mengajak kami menyusun beberapa hipotesis tentang faktor yang mempengaruhi banyaknya sampah per orangan per hari. Saya jadi ikut menebak-nebak apa saja yang mempengaruhi banyaknya sampah seseorang. Apakah faktor usia? Gender? Atau justru berat badan? Hehe

Oh iya, setelah kelas usai, saya dan teman-teman diminta untuk mengunjungi Tempat Pembuangan Sampah (TPS) di daerah kami dan berfoto di antara gunungan sampah. Wah, sudah mulai terbayang bagaimana baunya:(

Berfoto di depan TPS di kawasan Gebang Putih
Benar saja. Saya mengunjungi sebuah TPS di kawasan Gebang Putih. Hanya berjarak beberapa meter saja, bau tidak sedapnya mulai tercium. Saat masuk, baunya semakin menjadi. Saya tidak suka baunya. Tapi, kalau dipikir-pikir, beberapa kilogram dari sampah disana juga merupakan sampahku. Kita terkadang tidak berfikir panjang saat menggunakan sesuatu. Beli nasi bungkus dibungkus kertas, beli air minum dalam kemasan, hingga menyisakan makanan adalah beberapa contoh kebiaaan kita yang seharusnya diperbaiki. Andai saja semua orang berfikiran untuk mengurangi sampah pribadinya, berapa banyak jumlah ton sampah per hari bisa berkurang? Andai saya mengubah kebiasaan adalah hal yang mudah..........

Minggu, 19 Maret 2017

Sustainable Manufacturing W6: WATER

Setelah membahas tentang energi pada minggu sebelumnya, pada minggu ini Bu Maria menjelaskan tentang air. Yaaaa, air yang itu lho, yang menurut kita segar, bersih, bening, jernih, bisa meredakan haus, dan sebagainya. Secara tidak sadar, saat mendengar kata air, kita akan menyebutkan berbagai hal baik. Tidak heran, karena memang air sangat penting dalam hidup kita. Coba bayangkan jika tak ada air, maka kita tak bisa mandi, makan, dan tentu saja minum. Nah, justru itu kuncinya! Coba bayangkan jika tidak ada air. Justru karena perannya yang sangat vital dalam hidup kita, kelangkaan air tentu akan menjadi masalah besar. Beberapa daerah di Indonesia bahkan masih mengalami kekeringan saat musim kemarau datang. Mereka yang tinggal disana harus berjuang hanya untuk mendapatkan air. Sungguh memprihatinkan.

Tapi sebenarnya lucu juga ya. Di sisi lain kita mengalami kekeringan, namun di sisi lain banjir dimana-mana. Belum lagi masalah polusi air.

Kualitas air di Indonesia juga masih buruk. Sebenarnya, saat ini sudah ada kemajuan terkait hal tersebut. Sebagai contoh, air PDAM di Keputih yang dulu kotor, berbau, dan payau, kini sudah lebih baik sehingga lebih nyaman dipakai mandi. Hmm... saya setuju sekali dengan hal ini. Saya ingat betul betapa saya dulu sangat tidak suka ke Surabaya karena kondisi airnya. Saat saya berkunjung ke rumah saudara saya di Surabaya, saya tidak suka mandi disana karena setelah mandi, badan saya justru akan terasa pliket. Percaya atau tidak, saya dulu juga ogah kuliah di Surabaya karena hal ini. Untunglah saat ini saya sudah bisa merasakan sensasi segar setelah mandi di kos di daerah Keputih. Namun, tetap saja, kualitas air di Indonesia khususnya di Surabaya masih jauh dari standar karena air PDAM disini tidak dapat langsung dikonsumsi.

Bu Maria juga menjelaskan tentang Water Sensitive City (WSC) pada pertemuan kali ini. WSC merupakan tujuan utama dimana manajemen air tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar air, namun juga mengintegrasikan akses air dengan perlindugan keamanan, kesehatan masyarakat, banjir, maalah lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi. Penelitian bu Mar'atus dan bu Diesta menjelaskan urban water management transition ini untuk ruang lingkup Kota Surabaya. Mereka ingin menilai apakah framework tentang WSD ini tepat dan dapat diimplementasikan oleh Kota Surabaya. Hasilnya, konsep framework ini tidak dapat diterapkan di Surabaya. Sebab, di Indonesia, kuantitas dan kualitas air bersih di sebuah kota daerah sangat tergantung dengan sistem manajemen air di kota lain.

Pada pertemuan minggu ini, Bu Maria sebelumnya juga meminta kami untuk membuat sebuah rencana water project. Saya memutuskan untuk membuat sebuah projek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk perkampungan di Surabaya, khususnya Keputih. Hasil olahan IPAL tentu akan bermanfaat, karena dapat mencegah banyaknya biota sungai dan laut yang tercemar zat-zat berbahaya air kotor seperti sisa deterjen, dan lain-lain. Projek utama saya adalah untuk memanfaatkan air IPAL tersebut sebagai sumber budi daya ikan lele untuk meningkatkan kesejahteraan warga dengan hasil jualan ikan lele.

Sabtu, 11 Maret 2017

Sustainable Manufacturing W5: ENERGY

Pada minggu ini, sesuai study guide, Bu Maria akan mengupas habis topik Energi. Sebelum mulai kelas, kami diminta untuk membaca tiga paper alumni Teknik Industri ITS yang berhubungan dengan topik Energi. Keempat paper tersebut adalah:

1. Aditya Timothy tentang Analisis Pemanfaatan Energi Listrik Perumahan Warga Kota Surabaya Segmen Listrik 450 VA dan 900 VA serta Alternatif Intervensi Kebijakan Efisiensi Energi
Sayangnya, karena waktu yang kurang, paper ini tidak dipresentasikan pada minggu ini.

2. Habib Hamidy tentang Analisis Pemanfaatan Air sebagai Energi Alternatif pada Produk Skala Rumah Tangga
Paper ini menjelaskan penelitian penggantian elpiji sebagai bahan bakar kompor dengan air. Dari hasil yang dipaparkan pada paper, ternyata diketahui bahwa air tidak cukup efektif untuk menggantikan elpiji. Hasil diskusi di kelas juga menyimpulkan hal ini, karena air belum mampu mencukupi spesifikasi yang diinginkan konsumen. Salah satu hal yang tidak dapat diwujudkan oleh air adalah nyala api yang besar sehingga memasak akan memakan waktu lebih lama. Selain itu, air yang digunakan adalah air yang sudah matang. Lantas, sama saja dong. Apa perlunya kita memasak air untuk memasak hal yang lain? Bukannya bahan bakar untuk merebus air juga merupakan energi?


Nurul Inayah dan Nando Novia meraih penghargaan dengan meneliti urin sebagai bahan bakar pengganti bensin
Dalam kesempatan tersebut, Bu Maria juga sempat mengusulkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang energi alternatif lain, termasuk urin. Wah, saya setuju banget! Sebab, salah seorang senior saya saat SMA pernah meneliti hal ini dengan menggunakan urin manusia sebagai bahan bakar pengganti untuk mobil. Setelah diuji dalam skala prototipe, ternyata air urin bisa digunakan sebagai bahan bakar dan lebih hemat daripada bensin. Penelitian ini bahkan mengantarkan senior saya meraih medali di kompetisi penelitian dunia. Hmm....sepertinya penelitian ini akan sangat "seksi" jika ada orang yang ingin mengembangkan ;)

3. Hilma Martha Ayu tentang Perumusan Strategi Pemasaran Produk Musicool Berdasarkan Hasil Riset Pasar dan Analisa Perilaku Konsumen dan Distributor
Wah kebetulan sekali saya yang diberi kesempatan untuk presentasi tentang topik ini. Sesungguhnya Musicool bukan sesuatu yang baru bagi saya. Sebagai reporter ITS Online, saya pernah meliput tentang sosialisasi pemasangan Muicool bagi para teknisi bengkel. Dari paper dan liputan saya pula, saya mengetahui bahwa Musicool merupakan salah satu alternatif terbaru untuk menggantikan penggunaan AC yang mengandung freon. Sudah jelas bahwa freon merupakan salah satu green house gases yang paling besar proporsinya. Nah, Musicool terbuat dari hidrokarbon. Penggunaan 1 kg Musicool bahkan sama dengan 3 kg freon. Wah, jauh juga ya perbandingannya:( Maka dari itu, penggunaan Musicool dapat menghemat sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh AC. Apalagi penggunaan AC sudah tidak dapat dipisahan lagi dari kehidupan kita:(

4. Toni Utomo tentang Analisis Hubungan Karakter Remaja SMA terhadap Indikator-Indikator Eco-Driving
Paper ini dibuat oleh mas Toni Utomo, yang ternyata memiliki latar belakang sebagai seorang pembalap. Wow! Dengan latar belakang itu pula, mas Toni tertarik untuk meneliti bagaimana kebiasaan berkendara remaja SMA, apakah sudah menerapkan eco-driving atau belum. Dalam pemahaman saya, eco-driving adalah kebiasaan berkendara yang ramah lingkungan. Wah, emang bagaimana ya? Tahukah kalian bahwa frekuensi kita menambah gas mobil atau sepeda motor akan mempengaruhi jumlah bensin yang dihabiskan? Kalau belum, pantas saja suka ngebut di jalan! Selain itu, menentukan rute perjalanan sebelum berkendara juga penting agar kita tidak mondar-mandir tanpa tujuan selama di jalan dan membuang-buang bensin. Kita juga harus rutin melakukan servis motor, agar mesin motor tetap terjaga dalam kondisi standarnya dan tak boros bahan bakar. Saya tidak menyangka, kebiasan sekecil itu ternyata bisa berpengaruh besar lho terhadap ketersediaan energi berkelanjutan.


Oh iya, dalam kuliah pada minggu ini saya juga mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana seharusnya kita express our idea, critical thinking,  dan melakukan presentasi. Pastikan bahwa semua pendapat yang kita utarakan memiliki dasar. Saat mau presentasi tentang sebuah paper, jangan lupa untuk mencari sebanyak-banyaknya sumber yang berkaitan. Sehingga, kita dapat berfikir lebih critical :)