Setelah membahas tentang energi pada minggu sebelumnya, pada minggu ini Bu Maria menjelaskan tentang air. Yaaaa, air yang itu lho, yang menurut kita segar, bersih, bening, jernih, bisa meredakan haus, dan sebagainya. Secara tidak sadar, saat mendengar kata air, kita akan menyebutkan berbagai hal baik. Tidak heran, karena memang air sangat penting dalam hidup kita. Coba bayangkan jika tak ada air, maka kita tak bisa mandi, makan, dan tentu saja minum. Nah, justru itu kuncinya! Coba bayangkan jika tidak ada air. Justru karena perannya yang sangat vital dalam hidup kita, kelangkaan air tentu akan menjadi masalah besar. Beberapa daerah di Indonesia bahkan masih mengalami kekeringan saat musim kemarau datang. Mereka yang tinggal disana harus berjuang hanya untuk mendapatkan air. Sungguh memprihatinkan.
Tapi sebenarnya lucu juga ya. Di sisi lain kita mengalami kekeringan, namun di sisi lain banjir dimana-mana. Belum lagi masalah polusi air.
Kualitas air di Indonesia juga masih buruk. Sebenarnya, saat ini sudah ada kemajuan terkait hal tersebut. Sebagai contoh, air PDAM di Keputih yang dulu kotor, berbau, dan payau, kini sudah lebih baik sehingga lebih nyaman dipakai mandi. Hmm... saya setuju sekali dengan hal ini. Saya ingat betul betapa saya dulu sangat tidak suka ke Surabaya karena kondisi airnya. Saat saya berkunjung ke rumah saudara saya di Surabaya, saya tidak suka mandi disana karena setelah mandi, badan saya justru akan terasa pliket. Percaya atau tidak, saya dulu juga ogah kuliah di Surabaya karena hal ini. Untunglah saat ini saya sudah bisa merasakan sensasi segar setelah mandi di kos di daerah Keputih. Namun, tetap saja, kualitas air di Indonesia khususnya di Surabaya masih jauh dari standar karena air PDAM disini tidak dapat langsung dikonsumsi.
Bu Maria juga menjelaskan tentang Water Sensitive City (WSC) pada pertemuan kali ini. WSC merupakan tujuan utama dimana manajemen air tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar air, namun juga mengintegrasikan akses air dengan perlindugan keamanan, kesehatan masyarakat, banjir, maalah lingkungan, dan keberlanjutan ekonomi. Penelitian bu Mar'atus dan bu Diesta menjelaskan urban water management transition ini untuk ruang lingkup Kota Surabaya. Mereka ingin menilai apakah framework tentang WSD ini tepat dan dapat diimplementasikan oleh Kota Surabaya. Hasilnya, konsep framework ini tidak dapat diterapkan di Surabaya. Sebab, di Indonesia, kuantitas dan kualitas air bersih di sebuah kota daerah sangat tergantung dengan sistem manajemen air di kota lain.
Pada pertemuan minggu ini, Bu Maria sebelumnya juga meminta kami untuk membuat sebuah rencana water project. Saya memutuskan untuk membuat sebuah projek Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) untuk perkampungan di Surabaya, khususnya Keputih. Hasil olahan IPAL tentu akan bermanfaat, karena dapat mencegah banyaknya biota sungai dan laut yang tercemar zat-zat berbahaya air kotor seperti sisa deterjen, dan lain-lain. Projek utama saya adalah untuk memanfaatkan air IPAL tersebut sebagai sumber budi daya ikan lele untuk meningkatkan kesejahteraan warga dengan hasil jualan ikan lele.
Minggu, 19 Maret 2017
Sabtu, 11 Maret 2017
Sustainable Manufacturing W5: ENERGY
Pada minggu ini, sesuai study guide, Bu Maria akan mengupas habis topik Energi. Sebelum mulai kelas, kami diminta untuk membaca tiga paper alumni Teknik Industri ITS yang berhubungan dengan topik Energi. Keempat paper tersebut adalah:
1. Aditya Timothy tentang Analisis Pemanfaatan Energi Listrik Perumahan Warga Kota Surabaya Segmen Listrik 450 VA dan 900 VA serta Alternatif Intervensi Kebijakan Efisiensi Energi
Sayangnya, karena waktu yang kurang, paper ini tidak dipresentasikan pada minggu ini.
2. Habib Hamidy tentang Analisis Pemanfaatan Air sebagai Energi Alternatif pada Produk Skala Rumah Tangga
Paper ini menjelaskan penelitian penggantian elpiji sebagai bahan bakar kompor dengan air. Dari hasil yang dipaparkan pada paper, ternyata diketahui bahwa air tidak cukup efektif untuk menggantikan elpiji. Hasil diskusi di kelas juga menyimpulkan hal ini, karena air belum mampu mencukupi spesifikasi yang diinginkan konsumen. Salah satu hal yang tidak dapat diwujudkan oleh air adalah nyala api yang besar sehingga memasak akan memakan waktu lebih lama. Selain itu, air yang digunakan adalah air yang sudah matang. Lantas, sama saja dong. Apa perlunya kita memasak air untuk memasak hal yang lain? Bukannya bahan bakar untuk merebus air juga merupakan energi?
Dalam kesempatan tersebut, Bu Maria juga sempat mengusulkan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang energi alternatif lain, termasuk urin. Wah, saya setuju banget! Sebab, salah seorang senior saya saat SMA pernah meneliti hal ini dengan menggunakan urin manusia sebagai bahan bakar pengganti untuk mobil. Setelah diuji dalam skala prototipe, ternyata air urin bisa digunakan sebagai bahan bakar dan lebih hemat daripada bensin. Penelitian ini bahkan mengantarkan senior saya meraih medali di kompetisi penelitian dunia. Hmm....sepertinya penelitian ini akan sangat "seksi" jika ada orang yang ingin mengembangkan ;)
3. Hilma Martha Ayu tentang Perumusan Strategi Pemasaran Produk Musicool Berdasarkan Hasil Riset Pasar dan Analisa Perilaku Konsumen dan Distributor
Wah kebetulan sekali saya yang diberi kesempatan untuk presentasi tentang topik ini. Sesungguhnya Musicool bukan sesuatu yang baru bagi saya. Sebagai reporter ITS Online, saya pernah meliput tentang sosialisasi pemasangan Muicool bagi para teknisi bengkel. Dari paper dan liputan saya pula, saya mengetahui bahwa Musicool merupakan salah satu alternatif terbaru untuk menggantikan penggunaan AC yang mengandung freon. Sudah jelas bahwa freon merupakan salah satu green house gases yang paling besar proporsinya. Nah, Musicool terbuat dari hidrokarbon. Penggunaan 1 kg Musicool bahkan sama dengan 3 kg freon. Wah, jauh juga ya perbandingannya:( Maka dari itu, penggunaan Musicool dapat menghemat sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh AC. Apalagi penggunaan AC sudah tidak dapat dipisahan lagi dari kehidupan kita:(
4. Toni Utomo tentang Analisis Hubungan Karakter Remaja SMA terhadap Indikator-Indikator Eco-Driving
Paper ini dibuat oleh mas Toni Utomo, yang ternyata memiliki latar belakang sebagai seorang pembalap. Wow! Dengan latar belakang itu pula, mas Toni tertarik untuk meneliti bagaimana kebiasaan berkendara remaja SMA, apakah sudah menerapkan eco-driving atau belum. Dalam pemahaman saya, eco-driving adalah kebiasaan berkendara yang ramah lingkungan. Wah, emang bagaimana ya? Tahukah kalian bahwa frekuensi kita menambah gas mobil atau sepeda motor akan mempengaruhi jumlah bensin yang dihabiskan? Kalau belum, pantas saja suka ngebut di jalan! Selain itu, menentukan rute perjalanan sebelum berkendara juga penting agar kita tidak mondar-mandir tanpa tujuan selama di jalan dan membuang-buang bensin. Kita juga harus rutin melakukan servis motor, agar mesin motor tetap terjaga dalam kondisi standarnya dan tak boros bahan bakar. Saya tidak menyangka, kebiasan sekecil itu ternyata bisa berpengaruh besar lho terhadap ketersediaan energi berkelanjutan.
Oh iya, dalam kuliah pada minggu ini saya juga mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana seharusnya kita express our idea, critical thinking, dan melakukan presentasi. Pastikan bahwa semua pendapat yang kita utarakan memiliki dasar. Saat mau presentasi tentang sebuah paper, jangan lupa untuk mencari sebanyak-banyaknya sumber yang berkaitan. Sehingga, kita dapat berfikir lebih critical :)
1. Aditya Timothy tentang Analisis Pemanfaatan Energi Listrik Perumahan Warga Kota Surabaya Segmen Listrik 450 VA dan 900 VA serta Alternatif Intervensi Kebijakan Efisiensi Energi
Sayangnya, karena waktu yang kurang, paper ini tidak dipresentasikan pada minggu ini.
2. Habib Hamidy tentang Analisis Pemanfaatan Air sebagai Energi Alternatif pada Produk Skala Rumah Tangga
Paper ini menjelaskan penelitian penggantian elpiji sebagai bahan bakar kompor dengan air. Dari hasil yang dipaparkan pada paper, ternyata diketahui bahwa air tidak cukup efektif untuk menggantikan elpiji. Hasil diskusi di kelas juga menyimpulkan hal ini, karena air belum mampu mencukupi spesifikasi yang diinginkan konsumen. Salah satu hal yang tidak dapat diwujudkan oleh air adalah nyala api yang besar sehingga memasak akan memakan waktu lebih lama. Selain itu, air yang digunakan adalah air yang sudah matang. Lantas, sama saja dong. Apa perlunya kita memasak air untuk memasak hal yang lain? Bukannya bahan bakar untuk merebus air juga merupakan energi?
![]() |
| Nurul Inayah dan Nando Novia meraih penghargaan dengan meneliti urin sebagai bahan bakar pengganti bensin |
3. Hilma Martha Ayu tentang Perumusan Strategi Pemasaran Produk Musicool Berdasarkan Hasil Riset Pasar dan Analisa Perilaku Konsumen dan Distributor
Wah kebetulan sekali saya yang diberi kesempatan untuk presentasi tentang topik ini. Sesungguhnya Musicool bukan sesuatu yang baru bagi saya. Sebagai reporter ITS Online, saya pernah meliput tentang sosialisasi pemasangan Muicool bagi para teknisi bengkel. Dari paper dan liputan saya pula, saya mengetahui bahwa Musicool merupakan salah satu alternatif terbaru untuk menggantikan penggunaan AC yang mengandung freon. Sudah jelas bahwa freon merupakan salah satu green house gases yang paling besar proporsinya. Nah, Musicool terbuat dari hidrokarbon. Penggunaan 1 kg Musicool bahkan sama dengan 3 kg freon. Wah, jauh juga ya perbandingannya:( Maka dari itu, penggunaan Musicool dapat menghemat sekaligus mengurangi dampak lingkungan yang disebabkan oleh AC. Apalagi penggunaan AC sudah tidak dapat dipisahan lagi dari kehidupan kita:(
4. Toni Utomo tentang Analisis Hubungan Karakter Remaja SMA terhadap Indikator-Indikator Eco-Driving
Paper ini dibuat oleh mas Toni Utomo, yang ternyata memiliki latar belakang sebagai seorang pembalap. Wow! Dengan latar belakang itu pula, mas Toni tertarik untuk meneliti bagaimana kebiasaan berkendara remaja SMA, apakah sudah menerapkan eco-driving atau belum. Dalam pemahaman saya, eco-driving adalah kebiasaan berkendara yang ramah lingkungan. Wah, emang bagaimana ya? Tahukah kalian bahwa frekuensi kita menambah gas mobil atau sepeda motor akan mempengaruhi jumlah bensin yang dihabiskan? Kalau belum, pantas saja suka ngebut di jalan! Selain itu, menentukan rute perjalanan sebelum berkendara juga penting agar kita tidak mondar-mandir tanpa tujuan selama di jalan dan membuang-buang bensin. Kita juga harus rutin melakukan servis motor, agar mesin motor tetap terjaga dalam kondisi standarnya dan tak boros bahan bakar. Saya tidak menyangka, kebiasan sekecil itu ternyata bisa berpengaruh besar lho terhadap ketersediaan energi berkelanjutan.
Oh iya, dalam kuliah pada minggu ini saya juga mendapatkan pelajaran yang sangat berharga tentang bagaimana seharusnya kita express our idea, critical thinking, dan melakukan presentasi. Pastikan bahwa semua pendapat yang kita utarakan memiliki dasar. Saat mau presentasi tentang sebuah paper, jangan lupa untuk mencari sebanyak-banyaknya sumber yang berkaitan. Sehingga, kita dapat berfikir lebih critical :)
Sabtu, 04 Maret 2017
Sustainable Manufacturing W4: Visi Misi Surabaya dan SDG
Minggu ini, kami kembali membahas tentang Sustainable Development Goal (SDG). Melanjutkan identifikasi kami sebelumnya tentang hubungan visi dan misi Kota Surabaya dengan SDG, pada pertemuan kali ini kami membuatnya jauh lebih detail. Tak hanya melihat hubungannya, namun kami juga turut menilai bagaimana nilai keterkaitan visi dan misi Surabaya dengan SDG. Menurut Bu Maria, Surabaya kini sedang gencar berbenah diri guna mencapai kotak demi kotak dalam SDG. Sebagai dasar, berikut adalah visi dan misi kota Surabaya.
Visi :
SURABAYA KOTA SENTOSA YANG BERKARAKTER DAN BERDAYA SAING GLOBAL BERBASIS EKOLOGI.
Misi :
Visi :
SURABAYA KOTA SENTOSA YANG BERKARAKTER DAN BERDAYA SAING GLOBAL BERBASIS EKOLOGI.
Misi :
- Mewujudkan sumber daya masyarakat yang berkualitas
- Memberdayakan masyarakat dan menciptakan seluas-luasnya kesempatan berusaha
- Memelihara keamanan dan ketertiban umum
- Mewujudkan penataan ruang yang terintegrasi dan memperhatikan daya dukung kota
- Memantapkan sarana dan prasarana lingkungan dan permukiman yang ramah lingkungan
- Memperkuat nilai-nilai budaya lokal dalam sendi-sendi kehidupan masyarakat
- Mewujudkan Surabaya sebagai pusat penghubung perdagangan dan jasa antar pulau dan internasional
- Memantapkan tata kelola pemerintahan yang baik
- Memantapkan daya saing usaha-usaha ekonomi lokal, inovasi produk dan jasa, serta pengembangan industri kreatif
- Mewujudkan infrastruktur dan utilitas kota yang terpadu dan efisien
Dalam tugas ini, saya harus menentukan nilai keterkaitan SDG dengan misi nomor 4 dan 9. Setelah menganalisa tentang masing-masing tujuan, sasaran, dan program, diketahui bahwa SDG yang berhubungan dengan misi nomer 4 adalah no poverty, no hunger, good health and well-being, clean water and sanitation, sustainable cities and community, responsible consumption and production, climate action, and life on land. Kekurangan misi yang disusun Pemerintah Kota Surabaya, baik misi 4 maupun 9 adalah tidak mencantumkan target kuantitatif yang spesifik. Akibatnya, saya tidak bisa menilai sudah berapa persen target pemkot Surabaya memenuhi indikator SDG.
Minggu, 26 Februari 2017
Sustainable Manufacturing W3: Visi Misi Kota Surabaya, SDG, dan Green Building
Jadi..... pada minggu ini saya kembali tidak masuk kuliah Sustainable Manufacturing karena harus mengikuti acara Leadership Development di Jogjakarta. Saya pun akhirnya hanya mengumpulkan tugas yang seharusnya dikumpulkan minggu itu dan bertanya lagi ke teman tentang apa yang diajarkan Bu Maria di kelas.
Ternyata, Bu Maria menindaklanjuti tugas kami pada minggu sebelumnya, yakni membuat causal loops masalah lingkungan dan dihubungkan dengan SDG yang telah dibahas sebelumnya. Berdasarkan causal loop terebut, kami juga harus menjelaskan mengapa "itu" berhubungan dengan "ini". Hal ini menurut saya cukup sulit karena kita harus berfikir beyond, tidak hanya melihat di permukaan saja, tapi harus menganalisis penyebab dan akibat masalahnya sehingga dapat dicari hubungannya dengan yang lain.
Karena SDG merupakan tujuan yang harus dicapai, mengetahui hubungan SDG dengan masalah lingkungan dapat membantu kita mengetahui masalah apa yang harus kita selesaikan untuk mencapai salah satu kotak dalam SDG. Menurut teman saya, Bu Maria juga menjelaskan bahwa SDG dibutuhkan karena ada masalah kritis yang harus diselesaikan dan merupakan masalah dinamis yang dapat berubah sewaktu-waktu. Selain itu, SDG juga merupakan bentuk komitmen bersama untuk menyelesaikan masalah dunia dan ada target minimal yang haru dipenuhi.
Bu Maria juga menjelakan tentang visi dan misi Surabaya serta bagaimana visi dan misi tersebut berhubungan dalam mencapai SDG. Teman-teman saya di kelas juga melakukan analisis bagaimana usaha pemerintah Surabaya untuk mencapai SDG jika dihubungkan dengan visi dan misinya.
Kelas hari itu juga membahas tentang green building dan Green Building Council Indonesia (GBCI) yang mengatur spesifikasi bagaimana sebuah bangunan dapat dikatakan sebagai green building. Setidaknya terdapat enam kategori dalam penilaian ini, yaitu:
1. Tepat Guna Lahan (Appropriate Site Development/ASD),
2. Konservasi dan Efisiensi Energi (Energy Efficiency and Conservation/EEC),
3. Konservasi Air (Water Conservation/WAC),
4. Siklus dan Sumber Material (Material Resources and Cycle/MRC),
5. Kesehatan dan Kenyamanan dalam Ruang (Indoor Health and Comfort/IHC),
6. Manajemen Lingkungan Bangunan (Building and Environment Management/BEM).
Setelah sedikit melakukan browsing, pada 2015, hanya ada 14 gedung di Jakarta yang tersertifikasi green building. Menurut saya, untuk ukuran kota besar dengan banyak gedung perkantoran menjulan tinggi, jumlah tersebut sangat tidak sebanding:( Padahal, gedung ramah lingkungan sangat keren lho! Tentunya juga akan membuat orang-orang di dalamnya nyaman.
| Penampakan Gedung Sampoerna Strategic Square dari Luar |
Senin, 20 Februari 2017
Sustainable Manufacturing W2: Causal Loops of Environmental Problem
Pada perkuliahan minggu kedua ini, kelas kami kedatangan tamu spesial. Beberapa mahasiswa dari Universitas Internasional Semen Indonesia (UISI) Gresik, Medan, dan beberapa daerah lain. Mereka datang ke ITS untuk melaksanakan national camp, salah satu acara dari International Office ITS yang mengundang beberapa mahasiswa dari berbagai universitas untuk belajar tentang internasionalisasi di ITS untuk diterapkan di universitasnya masing-masing nanti.
Dalam kelas ini, saya dipasangkan dengan Rina, seorang mahasiswa dari Medan. Uniknya, kalau tidak salah Rina berasal dari jurusan perbankan atau apa ya.....pokoknya jurusan yang berbau keuangan dan "terlihat" tidak berhubungan sama sekali dengan Sustainable Manufacturing. Pada kuliah ini, saya dan Rina ditugaskan untuk mengidentifikasi masalah lingkungan, bersamaan dengan penyebab dan akibatnya. Kami mengidentifikasi sembilan masalah lingkungan beserta penyebab dan akibatnya, yakni banjir, eutrofikasi, perubahan iklim, polusi udara, ozone layer depletion, degradasi fertilitas tanah, polusi air, polus tanah, dan pemanasan global.
Dalam satu kelas terdapat banyak grup, sehingga kami bisa berdiskusi tentang semua masalah lingkungan yang diidentifikasi oleh masing-masing grup. Setelah itu, kami mendapat tugas untuk menghubungkan semua hasil identifikasi kami dalam sebuah causal loop, untuk menggambarkan interaksi antar masalah lingkungan. Dari kegiatan itu, kami akhirnya sadar bahwa semua masalah lingkungan saling berhubungan. Bahkan, satu masalah lingkungan bisa menyebabkan masalah lingkungan yang lain. Namun, karena waktu yang tidak cukup, kami belum sampai pada kesimpulan masalah apa yang paling critical dan harus diselesaikan sesegera mungkin.
Oh iya, dalam kuliah hari itu, Bu Maria juga memutarkan film The 11th Hour, sebuah film karya Leonardo di Caprio. Film itu menunjukkan bahwa ibarat akhir zaman itu pada jam 12, maka sekarang sudah jam 11. Lionardo ingin menunjukkan bahwa karena berbagai masalah lingkungan dan perubahan iklim yang terjadi, dunia ini tinggal menunggu waktu agar benar-benar rusak dan tak bisa lagi ditinggali. Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum sadar tentang hal ini. Kita masih berusaha hidup nyaman tanpa mempedulikan nasib anak cucu kita yang mungkin saja tidak bisa hidup di dunia lagi karena ulah kita. Kita tak sadar bahwa ini adalah masalah besar. Kita bahkan naif untuk mengakuinya. Hal ini benar-benar membuka mata saya akan banyak masalah lingkungan yang terjadi belakangan ini.
Bagaimana bisa selama ini kita masih boros energi?
Bagaimana bisa kita hanya diam melihat es di kutub utara mencair perlahan karena global warming?
Bagaimana bisa kita tak mulai memikirkan solusi?
Ya, tentu saja bisa.
Karena bagaimana kita bisa membuat solusi atas sebuah masalah jika kita saja tak sadar bahwa hal tersebut adalah sebuah masalah?
Dalam kelas ini, saya dipasangkan dengan Rina, seorang mahasiswa dari Medan. Uniknya, kalau tidak salah Rina berasal dari jurusan perbankan atau apa ya.....pokoknya jurusan yang berbau keuangan dan "terlihat" tidak berhubungan sama sekali dengan Sustainable Manufacturing. Pada kuliah ini, saya dan Rina ditugaskan untuk mengidentifikasi masalah lingkungan, bersamaan dengan penyebab dan akibatnya. Kami mengidentifikasi sembilan masalah lingkungan beserta penyebab dan akibatnya, yakni banjir, eutrofikasi, perubahan iklim, polusi udara, ozone layer depletion, degradasi fertilitas tanah, polusi air, polus tanah, dan pemanasan global.
Dalam satu kelas terdapat banyak grup, sehingga kami bisa berdiskusi tentang semua masalah lingkungan yang diidentifikasi oleh masing-masing grup. Setelah itu, kami mendapat tugas untuk menghubungkan semua hasil identifikasi kami dalam sebuah causal loop, untuk menggambarkan interaksi antar masalah lingkungan. Dari kegiatan itu, kami akhirnya sadar bahwa semua masalah lingkungan saling berhubungan. Bahkan, satu masalah lingkungan bisa menyebabkan masalah lingkungan yang lain. Namun, karena waktu yang tidak cukup, kami belum sampai pada kesimpulan masalah apa yang paling critical dan harus diselesaikan sesegera mungkin.
Oh iya, dalam kuliah hari itu, Bu Maria juga memutarkan film The 11th Hour, sebuah film karya Leonardo di Caprio. Film itu menunjukkan bahwa ibarat akhir zaman itu pada jam 12, maka sekarang sudah jam 11. Lionardo ingin menunjukkan bahwa karena berbagai masalah lingkungan dan perubahan iklim yang terjadi, dunia ini tinggal menunggu waktu agar benar-benar rusak dan tak bisa lagi ditinggali. Namun sayangnya, masih banyak orang yang belum sadar tentang hal ini. Kita masih berusaha hidup nyaman tanpa mempedulikan nasib anak cucu kita yang mungkin saja tidak bisa hidup di dunia lagi karena ulah kita. Kita tak sadar bahwa ini adalah masalah besar. Kita bahkan naif untuk mengakuinya. Hal ini benar-benar membuka mata saya akan banyak masalah lingkungan yang terjadi belakangan ini.
Bagaimana bisa selama ini kita masih boros energi?
Bagaimana bisa kita hanya diam melihat es di kutub utara mencair perlahan karena global warming?
Bagaimana bisa kita tak mulai memikirkan solusi?
Ya, tentu saja bisa.
Karena bagaimana kita bisa membuat solusi atas sebuah masalah jika kita saja tak sadar bahwa hal tersebut adalah sebuah masalah?
Senin, 13 Februari 2017
Sustainable Manufacturing W1: Sustainable Development
Pada minggu pertama ini, kuliah Sustainable Manufacturing yang
seharusnya dijadwalkan pada hari Rabu, diselenggarakan pada hari Jumat karena
sesuatu hal. Pada hari Rabu, saya terlambat mengetahui infonya sehingga saya
datang ke kampus. Eh pada hari Jumat, saya justru bangun kesiangan dan karena
sudah terlambat, saya tidak masuk kelas:( sangat menyesal rasanya. Karena tidak
mau ketinggalan materi, saya pun akhirnya bertanya pada teman-teman tentang
materi hari itu.
Pada minggu pertama kuliah
Sustainable Manufacturing, Bu Maria membahas mengenai isu sustainability, khususnya Sustainable
Development (SD). Topik ini
ternyata belum banyak orang mengetahui dan menyadari bahwa isu ini sangat erat
kaitannya dengan kehidupan kita.
Earth Charter (2000)
mendefinisikan sustainability dalam
konteks global sebagai “founded on
respect for nature, universal human rights, economic justice, and a culture of
peace.” Sedangkan di sisi lain, SD diartikan sebagai usaha memenuhi kebutuhan
generasi saat ini tanpa mengurangi hak generasi masa depan untuk memenuhi
kebutuhan hidupnya juga.
Melihat definisi tersebut, saya
jadi berfikir. Sadarkah kita bahwa banyak kebiasaan sehari-hari yang sangat
tidak memenuhi prinsip SD ini? Sebagai contohnya ialah penggunaan energi yang
berlebihan, kebiasaan membuang-buang makanan dan air, serta perilaku tidak
ramah lingkungan dan pemborosan yang lain. Bu Maria juga menjelaskan tentang
Sustainable Development Goal (SDG) yang digagas oleh United Nation (UN). SDG
berisi 17 tujuan yang ditetapkan oleh UN sebagai agenda pembangunan dunia.
Teman saya juga memberitahu bahwa
kita ditugaskan untuk membuat presentasi tentang salah satu kotak dalam SDG.
Saya kemudian memutuskan untuk mengangkat tentang Zero Hunger, karena saya
memang sangat prihatin dengan kondisi sekitar saya yang sangat tidak mendukung
tujuan ini. Di kalangan teman-teman saya, saya dikenal sebagai orang yang
sangat galak jika ada teman yang menyisakan makanan. Karena menurut saya, hal
itu tidak etis di saat masih ada jutaan orang yang kelaparan. Ini kebiasaan
yang saya dapatkan semasa saya tinggal di asrama saat SMA. Saya ingat betul, di
ruang makan asrama, bersebaran tulisan “Take all you want, eat all you take.”,
mengingatkan kami untuk tidak menyisakan makanan yang sudah kami ambil.
Hmm.... jadi keterusan ya
ceritanya hehe. Kalau begitu saya akhiri saja personal jurnal kuliah
Sustainable Manufacturing ku minggu ini. I am soooo excited to learn more in
this course! :D
Resource:
Selasa, 01 April 2014
#latepost: Melenyapkan Generasi Serba Tanggung
Melenyapkan Generasi Serba Tanggung
oleh Mentari Rizki Amelia
Tak dapat dipungkiri, bahwa kualitas suatu negara tidak pernah lepas dari kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimilikinya. Bahkan, tanpa adanya SDM yang berkualitas, sumber daya alam (SDA) yang melimpah tak akan bisa dimanfaatkan dengan baik karena pengelola yang kurang kompeten di bidangnya. Tak dapat dipungkiri pula, bahwa untuk membentuk SDM yang berkualitas, sekolah sangat berperan penting di dalamnya. Pendidikan yang diajarkan di sekolah merupakan bekal seorang anak untuk dapat menjadi pribadi yang berkualitas. Sekolah mengajari mereka menjalin hubungan sosial yang baik dengan teman-temannya, mengingat manusia adalah makhluk sosial yang tak dapat hidup tanpa orang lain. Sekolah juga mengajari mereka ilmu-ilmu pengetahuan yang nantinya dapat berguna dalam banyak aspek. Maka, sekolah yang baik menjadi salah satu faktor pembentukan SDM yang berkualitas. Lantas, bagaimanakah sekolah yang diidam-idamkan oleh para siswa/siswi? Bagaimanakah seharusnya sekolah yang dapat membentuk SDM yang berkualitas itu?
Sekolah yang baik adalah sekolah yang menyenangkan, sekolah yang membuat siswa-siswinya ingin selalu pergi kesana setiap pagi, bertemu dengan teman-temannya, guru-gurunya, bahkan segudang pelajaran yang ada di dalamnya. Lihatlah, seorang anak TK selalu bersemangat pergi ke sekolah. Karena di sekolah, mereka melakukan apa yang mereka suka. Ya, bermain. Guru dan teman yang asik juga menjadi salah satu pendorong seorang anak TK bersemangat pergi ke sekolah. Lalu apakah semua sekolah harus seperti sebuah TK untuk menjadi sekolah dambaan siswa? Yang pelajarannya hanya bermain, banyak mainan, dan guru-gurunya tidak pernah marah?
***
Guru-guru TK selalu terlihat manis. Guru-guru yang super sabar dan tak pernah marah, bahkan ketika seorang anak tak sengaja pipis di pangkuannya. Tapi jika guru-guru di sekolah dasar dan menengah berperilaku sama, kemungkinannya hanya dua. Pertama, para siswa akan merasa keterlaluan jika tidak berperilaku baik juga kepada guru tersebut. Ya, sungkan. Kedua, tak ada rasa hormat siswa kepada guru, karena merasa bahwa guru terlalu legowo dan selalu menghadapi kenakalan siswanya dengan terlalu sabar.
Guru harus memiliki wibawa, sehingga siswa menaruh rasa hormat padanya dan selalu berusaha untuk bersikap baik kepadanya. Guru harus tegas, mampu meluruskan siswa ke jalan yang lurus lagi jika siswa tak sengaja belok di pertigaan yang salah. Namun yang paling penting adalah guru harus mampu menjadi tempat paling nyaman siswa untuk bertanya dan meminta pendapat di sekolah. Ya, guru harus mampu pula menjadi teman dan orang tua bagi siswanya, karena hubungan yang baik antara guru dengan siswa menjadi salah satu faktor paling penting bagi kenyamanan siswa di sekolah.
Guru harus memiliki wibawa, sehingga siswa menaruh rasa hormat padanya dan selalu berusaha untuk bersikap baik kepadanya. Guru harus tegas, mampu meluruskan siswa ke jalan yang lurus lagi jika siswa tak sengaja belok di pertigaan yang salah. Namun yang paling penting adalah guru harus mampu menjadi tempat paling nyaman siswa untuk bertanya dan meminta pendapat di sekolah. Ya, guru harus mampu pula menjadi teman dan orang tua bagi siswanya, karena hubungan yang baik antara guru dengan siswa menjadi salah satu faktor paling penting bagi kenyamanan siswa di sekolah.
Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain. Tidak hanya guru, teman juga menjadi faktor paling penting di sekolah. Semua pasti ingin menjadi Gabriella dalam film High School Musical yang memiliki Taylor sebagai sahabatnya. Taylor yang selalu terdepan saat memberi dukungan pada Gabriella, Taylor yang selalu betah mendengarkan cerita Gabriella, serta Taylor yang selalu memberi pengaruh positif bagi Gabriella. Karena tidak ada anak yang menginginkan pem-bully-an, bahkan permusuhan dengan temannya seperti apa yang mereka tonton di sinetron. Karena semua ingin menjadi Gabriella, yang selalu nyaman dan senang pergi ke sekolah setiap pagi.
Selain guru dan teman, lingkungan sekolah menjadi salah satu faktor mengapa siswa memilih sebuah sekolah. Beberapa anak bahkan memilih sekolah berdasarkan seberapa tinggi gedungnya, semegah apa gedung sekolahnya, atau sebanyak apa pohon di sudut-sudut sekolah. Ya, karena lingkungan sekolah menjadi salah satu penentu kenyamanan siswa. Lingkungan sekolah yang sehat, asri, dan indah pastinya selalu membuat siswa-siswi nyaman berada di sekolah. Bahkan pemerintah telah menyelenggarakan berbagai macam lomba sekolah sehat. Mulai dari sekolah UKS, sampai sekolah adiwiyata. Hal ini tentu saja dimaksudkan supaya semua sekolah mampu menciptakan lingkungan yang sehat dan asri, supaya membuat semua warga sekolah nyaman. Lingkungan sekolah yang sehat dan asri dengan banyak pohon dan tanaman tumbuh, serta kebersihan yang selalu terjaga tentu saja tidak hanya diciptakan oleh pihak sekolah, namun juga guru dan siswa. Maka dari itu, sekolah harus mampu menanamkan pendidikan cinta lingkungan sejak dini pula kepada para siswanya supaya lingkungan sekolah yang sehat dan asri dapat tercipta setiap saat dan merupakan sumbangsih semua warga sekolah. Karena manusia hidup dengan alam, itulah mengapa pendidikan linngkungan menjadi sangat penting. Semua siswa membutuhkannya.
Di sisi lain, sekolah tidak hanya tempat untuk belajar matematika dan fisika. Tapi juga tempat untuk mengambangkan potensi diri. Wawancara dengan seorang bapak-bapak yang menjadi siswa SMA 25 tahun lalu menyadarkan saya tentang sesuatu. Bahwa dulu, sekolah hanya berfungsi sebagai ‘tempat mendapatkan nilai’. Guru hanya bertugas untuk mengajar siswa sehingga mereka tidak mendapat angka merah di rapot. Hanya sebatas itu. Tidak ada bimbingan untuk siswa tentang “ Apa yang harus saya lakukan dengan nilai bagus ini? Apa yang harus saya lakukan setelah lulus SMA? Setelah lulus kuliah? Lalu apa sebenarnya potensi dan bakat saya?“. Beliau bercerita tentang bagaimana banyak teman SMA-nya lulus dengan wajah bingung, karena belum tahu harus menekuni bidang apa setelah lulus. Itulah mengapa bimbingan dan dorongan sekolah kepada siswa untuk mengembangkan potensinya sangat penting. Dengan begitu, siswa akan lebih semangat menuntut ilmu, karena mereka sudah memiliki tujuan untuk menjadi apa yang mereka inginkan dan senangi, sesuai dengan kemampuannya. Kata-kata yang selalu saya ingat dari guru saya, “ Kalau kamu senang dengan suatu bidang, sesusah apapun itu, kamu akan memiliki tenaga ekstra untuk melakukannya. Karena kamu suka. “. Nah, kalau seseorang sudah menekuni apa yang mereka suka, maka mereka akan cenderung mampu menguasainya dengan baik. Sehingga, mereka siap menjadi SDM yang berkualitas dengan kemampuannya. Tak akan ada lagi “ SDM serba nanggung”. Karena semua telah mantap di bidangnya masing-masing.
Tentu saja pengembangan potensi dan bakat siswa tidak hanya tugas guru. Sekolah harus mampu memfasilitasinya. Pertama, kurikulum yang berlaku harus mendukung hal tersebut. Misalnya, pelajaran kesenian yang memfasilitasi bakat siswa di bidang seni, atau pelajaran-pelajaran lainnya.
Saya pernah mendengar pernyataan seperti ini, “ Guru kesenian di sekolah saya pintar sekali bernyanyi. Suaranya aduhai. Tapi beliau hanya bisa menyanyi. Kami hanya diajari menyanyi. Padahal kami juga ingin bermain gitar dan bass, atau melukis di atas kanvas. “
Kalau kasusnya seperti ini, siapa yang rugi? Ketika kurikulum atau program sekolah yang berlaku ternyata tidak sesuai dengan apa yang harusnya dikembangkan. Bagaikan melempar anak panah dengan mata tertutup sehingga tertancap di luar sasaran tembak. Meleset total. Sekolah perlu membuka mata, melihat apa yang seharusnya menjadi sasarannya. Sehingga sekolah mampu memutuskan apa yang seharusnya dilakukan agar anak panah tersebut benar-benar mampu tertancap tepat sasaran.
Kedua, sarana dan prasarana yang mendukung. Siapa yang tidak menemukan banyak mainan ketika TK? Bongkar pasang, jungkat-jungkit, ayunan, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut pasti terdapat di sebuah sekolah TK, berfungsi untuk mendukung minat muridnya, yaitu bermain. Tentu saja kita tidak mengharapkan sebuah sekolah menengah memiliki jungkat-jungkit dan ayunan. Karena sudah bukan saatnya remaja berumur belasan tahun bermain jungkat-jungkit. Seorang remaja belasan tahun yang menyukai musik, membutuhkan studio musik dengan fasilitas lengkap di sekolahnya. Sedangkan yang suka bereksperimen dengan bahan-bahan kimia membutuhkan laboraturium kimia terpadu. Sama halnya dengan para olahragawan remaja yang membutuhkan lapangan basket, lapangan voli, atau lapangan futsal di sekolahnya. Ya, fasilitas akan menjadi salah satu faktor pendukung untuk pengembangan potensi dan minat siswa.
Ketiga, hubungan yang baik antara orang tua siswa dengan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua menjadi salah satu penentu masa depan anak. Maka, komunikasi yang baik antara sekolah dengan orang tua tentu akan berdampak baik terhadap perkembangan potensi seorang anak. Orang tua mampu mengetahui perkembangan anaknya di sekolah, sehingga tahu apa yang perlu mereka lakukan untuk mengembangkannya di luar sekolah. Sekolah, dalam hal ini guru, juga harus mengetahui perkembangan siswa di rumah, sehingga dapat memperlakukan dan menangani siswa tersebut sesuai yang seharusnya mereka terima.
Selain guru dan teman, lingkungan sekolah menjadi salah satu faktor mengapa siswa memilih sebuah sekolah. Beberapa anak bahkan memilih sekolah berdasarkan seberapa tinggi gedungnya, semegah apa gedung sekolahnya, atau sebanyak apa pohon di sudut-sudut sekolah. Ya, karena lingkungan sekolah menjadi salah satu penentu kenyamanan siswa. Lingkungan sekolah yang sehat, asri, dan indah pastinya selalu membuat siswa-siswi nyaman berada di sekolah. Bahkan pemerintah telah menyelenggarakan berbagai macam lomba sekolah sehat. Mulai dari sekolah UKS, sampai sekolah adiwiyata. Hal ini tentu saja dimaksudkan supaya semua sekolah mampu menciptakan lingkungan yang sehat dan asri, supaya membuat semua warga sekolah nyaman. Lingkungan sekolah yang sehat dan asri dengan banyak pohon dan tanaman tumbuh, serta kebersihan yang selalu terjaga tentu saja tidak hanya diciptakan oleh pihak sekolah, namun juga guru dan siswa. Maka dari itu, sekolah harus mampu menanamkan pendidikan cinta lingkungan sejak dini pula kepada para siswanya supaya lingkungan sekolah yang sehat dan asri dapat tercipta setiap saat dan merupakan sumbangsih semua warga sekolah. Karena manusia hidup dengan alam, itulah mengapa pendidikan linngkungan menjadi sangat penting. Semua siswa membutuhkannya.
Di sisi lain, sekolah tidak hanya tempat untuk belajar matematika dan fisika. Tapi juga tempat untuk mengambangkan potensi diri. Wawancara dengan seorang bapak-bapak yang menjadi siswa SMA 25 tahun lalu menyadarkan saya tentang sesuatu. Bahwa dulu, sekolah hanya berfungsi sebagai ‘tempat mendapatkan nilai’. Guru hanya bertugas untuk mengajar siswa sehingga mereka tidak mendapat angka merah di rapot. Hanya sebatas itu. Tidak ada bimbingan untuk siswa tentang “ Apa yang harus saya lakukan dengan nilai bagus ini? Apa yang harus saya lakukan setelah lulus SMA? Setelah lulus kuliah? Lalu apa sebenarnya potensi dan bakat saya?“. Beliau bercerita tentang bagaimana banyak teman SMA-nya lulus dengan wajah bingung, karena belum tahu harus menekuni bidang apa setelah lulus. Itulah mengapa bimbingan dan dorongan sekolah kepada siswa untuk mengembangkan potensinya sangat penting. Dengan begitu, siswa akan lebih semangat menuntut ilmu, karena mereka sudah memiliki tujuan untuk menjadi apa yang mereka inginkan dan senangi, sesuai dengan kemampuannya. Kata-kata yang selalu saya ingat dari guru saya, “ Kalau kamu senang dengan suatu bidang, sesusah apapun itu, kamu akan memiliki tenaga ekstra untuk melakukannya. Karena kamu suka. “. Nah, kalau seseorang sudah menekuni apa yang mereka suka, maka mereka akan cenderung mampu menguasainya dengan baik. Sehingga, mereka siap menjadi SDM yang berkualitas dengan kemampuannya. Tak akan ada lagi “ SDM serba nanggung”. Karena semua telah mantap di bidangnya masing-masing.
Tentu saja pengembangan potensi dan bakat siswa tidak hanya tugas guru. Sekolah harus mampu memfasilitasinya. Pertama, kurikulum yang berlaku harus mendukung hal tersebut. Misalnya, pelajaran kesenian yang memfasilitasi bakat siswa di bidang seni, atau pelajaran-pelajaran lainnya.
Saya pernah mendengar pernyataan seperti ini, “ Guru kesenian di sekolah saya pintar sekali bernyanyi. Suaranya aduhai. Tapi beliau hanya bisa menyanyi. Kami hanya diajari menyanyi. Padahal kami juga ingin bermain gitar dan bass, atau melukis di atas kanvas. “
Kalau kasusnya seperti ini, siapa yang rugi? Ketika kurikulum atau program sekolah yang berlaku ternyata tidak sesuai dengan apa yang harusnya dikembangkan. Bagaikan melempar anak panah dengan mata tertutup sehingga tertancap di luar sasaran tembak. Meleset total. Sekolah perlu membuka mata, melihat apa yang seharusnya menjadi sasarannya. Sehingga sekolah mampu memutuskan apa yang seharusnya dilakukan agar anak panah tersebut benar-benar mampu tertancap tepat sasaran.
Kedua, sarana dan prasarana yang mendukung. Siapa yang tidak menemukan banyak mainan ketika TK? Bongkar pasang, jungkat-jungkit, ayunan, dan lain sebagainya. Hal-hal tersebut pasti terdapat di sebuah sekolah TK, berfungsi untuk mendukung minat muridnya, yaitu bermain. Tentu saja kita tidak mengharapkan sebuah sekolah menengah memiliki jungkat-jungkit dan ayunan. Karena sudah bukan saatnya remaja berumur belasan tahun bermain jungkat-jungkit. Seorang remaja belasan tahun yang menyukai musik, membutuhkan studio musik dengan fasilitas lengkap di sekolahnya. Sedangkan yang suka bereksperimen dengan bahan-bahan kimia membutuhkan laboraturium kimia terpadu. Sama halnya dengan para olahragawan remaja yang membutuhkan lapangan basket, lapangan voli, atau lapangan futsal di sekolahnya. Ya, fasilitas akan menjadi salah satu faktor pendukung untuk pengembangan potensi dan minat siswa.
Ketiga, hubungan yang baik antara orang tua siswa dengan sekolah. Tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua menjadi salah satu penentu masa depan anak. Maka, komunikasi yang baik antara sekolah dengan orang tua tentu akan berdampak baik terhadap perkembangan potensi seorang anak. Orang tua mampu mengetahui perkembangan anaknya di sekolah, sehingga tahu apa yang perlu mereka lakukan untuk mengembangkannya di luar sekolah. Sekolah, dalam hal ini guru, juga harus mengetahui perkembangan siswa di rumah, sehingga dapat memperlakukan dan menangani siswa tersebut sesuai yang seharusnya mereka terima.
***
Ya, sebuah sekolah yang memenuhi dambaan para siswa tentu akan menciptakan output yang baik pula. Jika para siswa senang pergi ke sekolah, senang dengan guru-guru dan pelajarannya, pasti ilmu-ilmu yang disampaikan juga akan lebih mudah terserap. Suasana menyenangkan yang ada di sekolah juga akan membuat para siswa tidak bosan, bahkan merindukan sekolah setiap saat. Dengan efektifnya kegiatan belajar-mengajar di sekolah, maka salah satu faktor penentu SDM yang berkualitas sudah terwujud. Dengan SDM yang berkualitas, maka terpenuhilah salah satu faktor kualitas sebuah negara. Jadi, bukan tidak mungkin, dengan mewujudkan sebuah sekolah dambaan setiap siswa, Indonesia mampu menjadi negara yang maju beberapa tahun ke depan.
Namun, bayangkan jika sekolah tidak mampu menjadi tempat paling nyaman untuk siswa. Akan lebih banyak siswa membolos, akan lebih banyak siswa tawuran, dan pengaruh terbesarnya adalah menurunnya kulaitas SDM di Indonesia. Kurangnya bimbingan akan menjadi salah satu faktor munculnya SDM yang tidak kreatif dan ‘serba tanggung’. Karena akan jarang ditemui orang-orang yang memang betul-betul master di suatu bidang.
Lalu mengapa sekarang Malaysia menjadi negara yang lebih maju daripada Indonesia? Karena ketika Indonesia sibuk membenahi sektor ekonomi pada masa perkembangannya, Malaysia justru memperbaiki sektor pendidikan di negaranya. Terjawab sudah, mengapa dulu banyak mahasiswa Malaysia berbondong-bondong menuntut ilmu di Indonesia, namun sekarang justru mahasiswa Indonesia berbondong-bondong menuntut ilmu di negeri jiran.
Meskipun kita juga tidak dapat memungkiri bahwa untuk mewujudkan sekolah dambaan semua anak negeri, banyak hal yang masih perlu diperbaiki dari kualitas pendidikan di Indonesia. Semua orang tentu berharap, pendidikan di Indonesia mampu mengungguli pendidikan negara lain, sehingga semakin sedikit warga pribumi yang memilih untuk meneruskan studi di luar negeri karena merasa pendidikan di Indonesia masih kurang memadai. Semua orang juga tentu berharap, 20% APBN yang memang dianggarkan untuk pendidikan di Indonesia benar-benar tersalurkan sehingga tidak ada lagi sekolah rusak di pinggiran kota, tidak ada lagi warga miskin yang putus sekolah, dan adanya pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Tidak ada lagi kondisi dimana warga pinggiran semakin terpinggir, dan warga kota yang semakin maju. Semua orang di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak, seperti bunyi Pasal 31 UUD 1945. Saya yakin, kita semua yakin, dengan terwujudnya pendidikan yang berkualitas, Indonesia pasti mampu bersaing di lingkup global. Tidak akan ada lagi “SDM Serba Nanggung”, yang ada hanya manusia-manusia penantang masa depan yang berkompeten.
Namun, bayangkan jika sekolah tidak mampu menjadi tempat paling nyaman untuk siswa. Akan lebih banyak siswa membolos, akan lebih banyak siswa tawuran, dan pengaruh terbesarnya adalah menurunnya kulaitas SDM di Indonesia. Kurangnya bimbingan akan menjadi salah satu faktor munculnya SDM yang tidak kreatif dan ‘serba tanggung’. Karena akan jarang ditemui orang-orang yang memang betul-betul master di suatu bidang.
Lalu mengapa sekarang Malaysia menjadi negara yang lebih maju daripada Indonesia? Karena ketika Indonesia sibuk membenahi sektor ekonomi pada masa perkembangannya, Malaysia justru memperbaiki sektor pendidikan di negaranya. Terjawab sudah, mengapa dulu banyak mahasiswa Malaysia berbondong-bondong menuntut ilmu di Indonesia, namun sekarang justru mahasiswa Indonesia berbondong-bondong menuntut ilmu di negeri jiran.
Meskipun kita juga tidak dapat memungkiri bahwa untuk mewujudkan sekolah dambaan semua anak negeri, banyak hal yang masih perlu diperbaiki dari kualitas pendidikan di Indonesia. Semua orang tentu berharap, pendidikan di Indonesia mampu mengungguli pendidikan negara lain, sehingga semakin sedikit warga pribumi yang memilih untuk meneruskan studi di luar negeri karena merasa pendidikan di Indonesia masih kurang memadai. Semua orang juga tentu berharap, 20% APBN yang memang dianggarkan untuk pendidikan di Indonesia benar-benar tersalurkan sehingga tidak ada lagi sekolah rusak di pinggiran kota, tidak ada lagi warga miskin yang putus sekolah, dan adanya pemerataan pendidikan di seluruh wilayah Indonesia. Tidak ada lagi kondisi dimana warga pinggiran semakin terpinggir, dan warga kota yang semakin maju. Semua orang di Indonesia berhak mendapatkan pendidikan yang layak, seperti bunyi Pasal 31 UUD 1945. Saya yakin, kita semua yakin, dengan terwujudnya pendidikan yang berkualitas, Indonesia pasti mampu bersaing di lingkup global. Tidak akan ada lagi “SDM Serba Nanggung”, yang ada hanya manusia-manusia penantang masa depan yang berkompeten.
Oktober 2013
Langganan:
Postingan (Atom)


